sahabatsemua

Wednesday, April 18, 2007

kangen

kangen tu tak harus dikatakan
tapi juga tak harus disembunyikan
jadi
sesukamulah
dinyatakan atau tidak
tidak merubah fakta bahwa kamu sedang kangen atau tidak

Monday, January 15, 2007

yuk tanpa pretensi

Diabaikan, bukan suatu yang menyenangkan memang, apalagi jika kita berada dalam posisi “tak ingin diabaikan”, posisi ingin dihargai. Ingin dihargai adalah manusiawi, setiap orang ingin dihargai. Tapi tak berarti kita mesti tunduk pada keinginan itu. Maksud tunduk adalah kita menjadi terluka ketika usaha-usaha dan sikap terbaik yang coba kita lakukan tak mendapat penghargaan orang lain, kita justru diabaikan begitu saja.
.
Ingin dihargai adalah salah satu keinginan yang diujikan untuk mengetahui sejauh mana keikhlasan kita beramaliah. Benarkah kita beramaliah hanya sejauh ingin dihargai orang lain atau sungguh melakukan tulus karena kecintaan dan kewajiban. Benarkah amaliah kita hanya karena ingin mendapat apresiasi orang lain atau sungguh ikhlas melakukan karena Allah memerintahkan. Ketulusan justru teruji saat ada pengabaian dan penyepelean. Semakin “santai” dan tak terusik oleh perasaan tak enak apalagi sakit hati ketika menerima pengabaian, semakin tinggi dan sempurna ketulusan dan keikhlasan kita. Sebaliknya perasaan terganggu dan sakit hati menunjukkan ketidakikhlasan masih ada dalam jiwa kita.
.
Bagi pengikhlas sejati dihargai atau tidak, diapresiasi atau tidak, diabaikan atau tidak, tidak lagi menjadi bagian kalkulasi dan pertimbangan dalam melakukan tindakan. Kalkulasinya hanya satu, Allah. Haruskah, benarkah, bermanfaatkah, itulah yang menjadi azas tindakannya.
.
Jadi?
Semakin pandai kamu mengabaikan “pengabaian” orang lain, semakin terlatih kamu untuk bertindak ikhlas, bertindak tanpa pretensi.
.
Namun bukan berarti kita bebas dan harus menguji keikhlasan setiap orang dengan tak menghargai mereka lho!. Itu sih namanya tak tau adab!

Duhai Rabbi

Rabbi…
Tak satu yang tahu selain Engkau
Aku bahagia dengan-Mu
Cukuplah itu Rabbi
Segala kemuliaan adalah kepunyaan-Mu
Segala kebahagiaan adalah milik-Mu
Segala jalan keluar ada pada-Mu
Jangan biarkan aku pergi selain kepada-Mu…

Inilah jalan itu...

Selalu kukatakan “inilah jalan itu”, jalan yang selalu dicari setiap orang, jalan yang selalu diperjuangkan setiap orang. Jalan kedamaian dan kebahagiaan, jalan menuju-Nya. Ada banyak jalan memang, tapi ini seperti jalan tol, jalan terlurus dan tersepat kepada-Nya.
.
Begitulah selalu kukatakan “inilah jalannya” setiap kutemui kesulitan. Kesulitan apapun, kesulitan sebesar apapun, kesulitan atas apapun, kesulitan menghadapi siapapun. Di pagi hari atau sore hari, di siang bolong atau di malam gulita, di kesendirian atau di keramaian, di rumah atau di jalanan, di rantau atau di kampung halaman, serumit apapun, selalu kukatakan “inilah jalannya”. Ketika kesulitan mengatasi perasaan, ketika kesulitan menenangkan hati yang bergolak, ketika kesulitan menepis goda, ketika kesulitan menyelesaikan kerja, ketika kesulitan mengajak diri istiqomah, ketika kesulitan membujuk diri untuk bersabar dan tenang, ketika kesulitan menahan amarah, ketika kesulitan menundukkan pandangan, ketika kesulitan mengatasi emosi, ketika kesulitan konsentrasi hanya kepada-Nya, selalu kukatakan “inilah saatnya”. Ketika kesulitan datang di atas kesulitan, ketika kesulitan yang lebih besar datang persis di waktu kesulitan lain sedang memuncak, ketika kesulitan satu bersatu dengan kesulitan lainnya, ketika kesulitan yang satu berkolaborasi dengan deretan kesulitan lainnya…
.
Maka selalu kuajak engkau tersenyum, karena inilah jalan itu. Inilah saat dimana pintu-pintu kemudahan dibuka, inilah tempat dimana doa-doa dikabulkan, inilah tanda waktu pertolongan-Nya telah semakin dekat, inilah saat membuktikan Allah lah tuhanmu, inilah moment kemuliaan berada. Tabahlah, sabarlah, bahkan rela dan ridhalah.
.
Biarkan sosok itu berjalan tepat di hadapanmu, tak ada yang menghalangimu untuk merintih pada-Nya. Terimalah kenyataan itu, senyumlah dalam moment itu, berterimakasihlah pada-Nya atas hal terbaik itu. Engkau boleh jadi menangis, tak ada yang melarang itu, Dia mendengar segala kesahmu yang tak terucap sekalipun, dan Dia menyukai airmatamu yang hanya kepada-Nya. Sisipkan seuntai doa tertulusmu untuknya, ucapkan dengan segenap kecintaan, “teriakkan” doa itu dalam jiwamu moga Dia mencintainya, menuntunnya untuk selalu melakukan apa yang Dia cintai, membuatnya semakin cinta pada-Nya, dan membuat Dia pun mencintainya… sampailah pada cinta tanpa pretensi…
.
sekarang saatnya bangun malam dengan taratur. Tak apa motifmu masih “ingin selesainya segala kesulitan”. Anggap saja beginilah cara Dia menggiringmu ke lautan cinta. Sebelum kamu membutuhkan itu karena memang begitu dahsyat kenikmatannya.
.
Maka tersenyumlah karena “inilah jalan itu”…

SELAMAT TAHUN BARU 2007

Setiap waktu adalah baru, tak ada waktu yang kadaluarsa karena memang senantiasa terbaharu, bahkan jikapun sampai seperseribu detik tingkat ketelitiannya, akan ditemukan bahwa waktu senantiasa terbaharui. Tahun baru 2007, bukan tahun Islam, tapi waktu itu sendiri adalah sangat Islami, adalah mahluk yang sangat tunduk kepada Penciptanya, Islami. Dan muhasabah tentang waktu, di manapun titiknya (toh senantiasa baru) menjadi suatu yang sangat Islami. Muhasabah, suatu yang bersifat introspektif terhadap kesalahan dan kekurangan masa lalu, serta kontemplatif untuk merumuskan perbaikan masa datang menjadi sangat penting bagi kehidupan siapa saja. Merupakan transendensi dari hidup yang sekedar hidup menjadi hidup yang menjadi hidup. Sekedar hidup dalam arti tak menghasilkan hidup di kehidupan abadi (laa yamutu fiiha wa laa yahya). Menjadi hidup dalam arti membuahkan kebahagiaan hidup hakiki di kehidupan abadi.

Apa yang terjadi di setahun lalu:

Terlalu banyak kesalahan dan dosa yang telah dilakukan, dengan ini tak pantas rasanya tertawa lebar. Tertawa lebar di tengah ancaman siksa pedih-Nya? Airmata penyesalan lebih pantas atas itu semua.

Terlalu banyak nikmat yang harus disyukuri. Bayangkan gelimangan karunia itu. Tak usah di sepanjang tahun, di satu detik momen kehidupan saja tak terkira!. Dan lihat apakah lebih banyak ridhamu atau keluhmu atas segala iradah-Nya itu?

Terlalu banyak kebutuhanmu kepada-Nya, kebutuhanmu tak terbatas pada-Nya!. Lalu seberapa intens kamu meminta? Jangan-jangan semua sambil lalu belaka…

Rasanya semua terlihat semakin ironis, di tengah karunia yang tak terkira dari-Nya, di tengah kebutuhanmu yang tak terbatas pada-Nya, engkau lebih banyak melakukan pelanggaran dan alpa pada-Nya (terlalu banyak bahkan), bandingkan dengan kebajikan dan ketaatanmu pada-Nya yang begitu tipis.

Apa yang akan dilakukan setahun ke depan?

Kesalahan dan dosa itu niscaya, tak terelakkan. Hanyutkan dirimu dalam laut penyesalan dan tobat selamanya (nasuha). Biarkan hidupmu penuh airmata ini, airmata yang akan mencuci kekotoranmu di hadapan-Nya.

Senantiasalah tersenyum untuk ekspresikan ridhamu pada-Nya. Hayati dan nikmati karunia kasih sayang-Nya setiap waktu. Lafadzkan tasbih dan hamdalah sebanyak yang engkau bisa, gemakan itu dalam jiwa.

Intenskan doa. Doa sebagai perlambang dan bukti kehambaan, engkau tak ada daya dan hanya Dia yang Berdaya. Doa sebagai alat dan senjata mencapai tujuan. Doa sebagai bukti tak ada kesombongan. Doa sebagai ibadah dan melaksanakan perintah. Doa sebagai saat terdekat dan terintim kita dengan-Nya. Doa sebagai sumber kekuatan dan spirit jiwa kita. Doa sebagai (jalan) penolong atas segala problematika kita. Doa sebagai saat terindah dan ternikmat dalam hidup kita. Doa sebagai panduan dan manual hidup kita. Doa memastikan kita senantiasa berada dalam dzikir kepada-Nya.

Muhasabah berkelanjutan. Memperbaiki diri dengan continue. Senantiasa berdoa di setiap moment kehidupan. Lalu terus menerus membaguskan ibadah.

Ini adalah satu-satunya (rangkaian langkah) pilihan hidup (sebelum mati) ini.

Monday, November 06, 2006

beranilah

Bertekadlah untuk melakukan apa yang harus dilakukan tanpa ketakutan dan keraguan. Bersikaplah berani dan penuh pengharapan. Percayalah kepada Allah SWT dan kepada semangat keberanianmu sendiri.
Intinya: Berani, tak ragu dan penuh pengharapan.
Berani menjalankan keseharusan
Tak ragu karena penuh keyakinan dan
Penuh pengharapan karena Allah yang menjanjikan keberhasilan.

Resapilah keberanian ini.
Resapilah sehingga begitu jelas bentuknya dalam benak,
Resapilah sehingga begitu terasa dalam aliran darah.
Lalu begitulah implementasinya, senyata apa yang di benak dan dirasa.
Tidaklah atasan membuat segan dengan tetap menghormatinya, tidaklah pejabat membuat tertekan tanpa kehilangan respect terhadapnya, tidaklah polisi atau preman membuat takut meski tetap berhati-hati, tidaklah peliknya masalah-masalah membuat kecil hati meski tetap rendah hati dan penuh keyakinan bahwa Dia-lah yang dapat mengurai masalah itu, tidaklah harta yang dimiliki seseorang menyilaukan karena kesederhanaan yang dijalani Rasulullah lebih menyilaukan, tidaklah kecantikan atau ketampanan lawan jenis menggamangkan karena keyakinan atas kefanaan itu semua dan keyakinan atas kepastian-Nya. Sehingga muncul sikap-sikap elegan natural, santun dan rendah hati tanpa merendahkan diri, tegas tanpa kesombongan, berwibawa tanpa dibuat-buat, berani dan lugas tanpa menyakiti, ramah tamah tanpa menjilat, serba proporsional.

terimakasih sahabat

Terimakasih tak terhingga untuk sahabat terdekatku. Yang tak pernah mengingkari kepercayaan yang kuberikan. Yang pada akhirnya senantiasa dapat menjawab kepercayaan itu dengan memuaskan. Meski dalam prosesnya aku dibuat seolah “teraniaya”. Terimakasih untuk tetap di sampingku dalam hari-hari tersulitku. Terimakasih untuk tak meninggalkanku meski terus mendapat gerutuan dan protes-protes kerasku. Terimakasih telah begitu sabar tak meladeni amarahku. Terimakasih telah demikian telaten menghadapi kebodohanku. Terimakasih karena telah memahami aku apa adanya. Terimakasih atas keteguhanmu untuk tetap bersahabat denganku. Engkau adalah satu keajaiban-Nya untukku… alhamdulillah…

Sunday, November 05, 2006

fahamilah

Engkau telah mencari sekian lama
Kadang menyelinap rasa sepi di hatimu
Engkau telah mencari tanpa henti
Kadang engkau lelah…
tapi Fahamilah "Jika Allah menahan pemberian-Nya padamu, maka itu adalah suatu (kemuliaan) untukmu selama kau pertahankan keislaman dan keimananmu, hingga segenap apa yang dilakukan Allah kepada dirimu menjadi karunia pula kepadamu".

model-model idul fitri

idul fitri, kembali kepada fitrah
Setelah kekotoran dosa dicuci dalam ramadhan
Setelah kekurangan diperbaiki dalam ramadhan
Setelah kebajikan dibiasakan dalam ramadhan
Maka kembalilah kepada fitrah yang suci
Fitrah sebagai hamba, yang melulu mendedikasikan kehidupan untuk ibadah
Pasca ramadhan, tetap berpola hidup ala ramadhan
Menahan diri dari hawa nafsu
Hanya melakukan apa yang Allah mau
Gairah dan nikmat beribadah
Semangat melakukan kebajikan

Tapi…
Ada idul fitri model lain
Idul fitri lebih berarti sebagai kembali kepada fitrah (asal) sebelum ramadhan
Berpakaian tak lagi serapih ramadhan
Makan minum kembali sesuka-suka
Bicara kembali semaunya
Pandangan kembali tak terjaga
Ibadah kembali sesempatnya
Plus segala kebiasaan buruk sebelum ramadhan kembali dilakukan pasca ramadhan
Ini dia idul fttri yang bermakna kembali kepada “kebebasan” alias kembali memperturutkan hawa nafsu.

Ramadhan tak berbekas selain meninggalkan banyak tagihan lebaran
Ramadhan menguap tak menyisakan selain tumpukan toples dan piring kotor lebaran

tak pernah ada yang hilang

Banyak sudah yang terlewat, tak terhitung
Namun semua takkan kembali dengan meratapinya
Tapi bukan berarti tak penting lagi penyesalan
Penyesalan sebagai pintu taubat tak boleh tidak, harus ada!
Tapi jangan sampai terperangkap dalam sesal yang menjerat
Menjerat langkah maju ke depan
Menjerat langkah optimis dan menggairahkan
Menjerat perbaikan dan cerahnya masa depan
Sesal atas segala yang terlewat mestilah produktif dan konstruktif untuk masa kini dan yang akan datang.
Aku persis ada di sampingmu ketika kejadian dramatis itu menimpamu
Aku ingin katakan sesuatu padamu saat itu
Tapi engkau terlalu larut dalam drama itu, aku khawatir justru kontra produktif
Setelah kita lalui banyak hari yang semuanya mencatatkan dramanya sendiri
Aku ingin engkau mantap dengan pelajaran kehidupan yang membentang ini
Tak pernah ada yang hilang…
Karena memang tak ada eksistensi…

di mana tempatmu kini?

Dimana kamu sekarang?
Di persimpang jalan atau di tempat yang sangat jauh
Sangat jauh dari keseharusan
Sehingga begitu rentan
Mudah berduka, mudah kalut, mudah tergoda, mudah limbung, mudah terprovokasi, mudah lupa, lupa alpa, mudah goyah, mudah menangis yang bukan tempatnya.

Aku merindukanmu
Merindukanmu berada di tempat seharusnya
Yang damai, yang sejuk, yang tenang, yang hangat, yang inspiratif, yang antusiatif, yang stabil, yang motivatif, yang mantap lahir batin.

Aku menunggumu di tempat-tempat seharusnya
Di atas sajadah
Di dalam ruku dan sujud
Di dalam penjagaan wudhu
Di dalam keheningan qiyamul lail
Di dalam khalwat dan munajat kepada-Nya
Di dalam masyuk bersama firman-firman-Nya
Di dalam kegemaran memberi
Di dalam kelezatan menahan diri dalam shaum sunnah
Di dalam kecerahan wajah menghadapi siapa saja
Di dalam kerja ikhlas memenuhi kewajiban
Di dalam aktivitas tulus tak berpretensi penilaian baik
Aku menunggumu di tempat-tempat itu
Aku ingin kita selalu menyatu dalam muthmainnah-Nya
Jangan pernah pergi dari sana sahabatku
Jangan pergi ke tempat yang tidak menentramkan
Tempat yang meragukan
Yang menggamangkan
Yang senantiasa menyelipkan kegelisahan

Sunday, October 15, 2006

silent aja dech

tak setiap rasa harus diekspresikan
bahkan jika perasaan itu adalah perasaan yang "sah" dan tak salah
karena membiarkannya tanpa ekspresi bisa lebih baik
atau lebih tepat mengekspresikan rasa itu khusus dengan-Nya
dalam khalwat dan doa
bukan berbagi dengan siapa rasa itu tertuju
bukan berbagi dengan siapa yang mungkin bisa memahami rasa itu

bertahun lewat
tak pernah keluar kembali siapapun yang pernah masuk dalam rumah hatiku
meski tak lagi ada pertemuan bahkan sepotong sapaku untuk mereka di hari-hariku
bahkan aku tak lagi tahu bagaimana kabar mereka
tapi ingatanku tak lekang terhadap mereka
tapi kasih sayangku tak terkurang atas mereka
tapi harapanku tetap membuncah untuk kebahagiaan mereka

aku tak lupa tanggal 10 Februari, tanggal 13 Juli, tanggal 1 Agustus, tanggal 25 Mei, tanggal 13 Oktober, tanggal 7 September, tanggal 10 Agustus, tanggal 11 Desember dst meski aku tak ada kontak lagi dengan mereka yang lahir di tanggal itu. aku tak tahu di mana mereka berada, apa kesibukan mereka, apa kabar mereka, dan aku tak mencari tahu.
memang aku begitu pelupa di satu sisi. kadang lupa nama suatu benda, kadang lupa nama seorang teman, kadang lupa mengunci pintu, kadang ketinggalan kunci di motor, kadang lupa suatu istilah, kadang lupa vocab yang sudah sangat umum, dst. tapi aku tak pernah lupa untuk membisikkan doa khusus di tanggal-tanggal lahir itu.

Friday, September 22, 2006

luangkan waktu untuk-Ku

“Luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku angkat kesibukanmu dan Aku bendung kefakiranmu. Jika engkau tak mau, niscaya Aku aku biarkan kesibukan mempermainkanmu dan takkan Kubendung kefakiran atasmu” (terjemah bebas hadist Qudsi)
.
Sesungguhnya ibadah yang terlewat-lewat adalah kefakiran itu sendiri. Sesungguhnya lalainya ibadah itu adalah kerugian hidup itu sendiri. Sesungguhnya ibadah yang tersia-sia adalah bencana itu sendiri.
.
Mungkin awal-awal hanya keutamaan yang terlewat.
Sebagai contoh shalat sebagai ibadah pertama yang dihisab, sebagai parameter ibadah lainnya. Keutamaan terlewat dengan shalat tidak lagi di awal waktu, tidak lagi berjamaah dst. Waktu magrib sungguh sedang terjebak kemacetan, waktu subuh sungguh penat dan kantuk belum teratasi, waktu duhur lagi meeting penting, waktu ashar lagi banyak client, dan waktu isya itulah puncak kelelahan. Jangankan menikmati shalat (sebagai media kita bertemu sang Khalik) dan berlama-lama di atas sajadah, jangankan meneruskan dengan doa dan dzikir, jangankan membaca quran, bisa shalat fardhu thok saja sudah setengah mati, jangan tanya lagi shalat sunnah, itu sudah semakin jarang. Jika sudah demikian, itu tanda-tanda keutamaan ibadah akan tercabut dari hidup. Keberkahan hidup bakalan redup.
.
Bisa jadi materi tak kurang, tapi hati kering. Bisa jadi kesejahteraan justru meningkat, tapi keresahan batin juga menyeruak. Bisa jadi hidup tak lepas dari tawa, tapi tangis dalam hati justru tak lagi menemukan obatnya. Bisa jadi sahabat dan kerabat menjadi banyak, tapi kegelisahan jiwa tidak selesai dengan mereka. Jika tak segera sadar dan memperbaiki diri, akan semakin sulit untuk kembali ke dalam track ibadah, akan semakin berat memulihkan kekhusukan ibadah. Yang tersisa tinggal keinginan untuk ibadah. “Nantilah satu saat aku akan ibadah lagi” mungkin itu yang terpikir di benak mereka yang berada dalam proses ini. Tapi kapan? Yakinkah maut takkan mendahului?

Thursday, September 21, 2006

my lovely ramadhan

Aku gagap menyongsong kedatanganmu
Bukan aku tak suka
Sungguh aku merindukanmu luar biasa
Aku hanya tak ingin engkau tersia-sia
Aku hanya takut tak bisa memuliakanmu
.
Engkau telah mengabari rencana kedatanganmu cukup lama
Tapi aku terlalu “sibuk” (alasan yang aku sendiri membencinya)
Sehingga tak pernah ada langkah antisipatif untuk menyambutmu
Selalu saja segala sesuatu dipersiapan last minute
Tak pernah sungguh-sungguh siap!
.
Engkau pasti datang esok atau lusa
Aku tahu aku tak dapat menyambutmu dengan sambutan yang memadai
Aku tahu aku tak bisa memuliakanmu semulia kedudukanmu
Begitulah bodoh dan naifnya aku
Yang tak dapat menerima kemuliaanmu dengan sepantasnya
.
Tapi
Semoga rasa cinta, kerinduan dan sukacitaku atas kedatanganmu mampu menghangatkan pertemuan kita nanti.
Hatiku berdebar menunggumu…

syahadatku yang terbata

Keharuan meluap dalam dadaku
Ketika dia mengucapkan dua kalimah syahadat dengan terbata
Seolah akulah “pengucapnya”
Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Tak ada yang disembah (diikuti dan dituruti) selain (kehendak dan syariat) Allah
Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah
Dan hanya Rasulullah yang menjadi puncak uswah dalam hidup ini

Bukankah aku pun begitu sulit untuk hanya melakukan apa yang diridhoi dan dicintai-Nya?
Bukankah aku pun begitu sulit menempatkan Rasulullah sebagai patron hidupku

Aku gagap mencari nafkah halal
Aku tak fasih menyambut panggilan adzan-Nya
Aku begitu kelu untuk qiyamul lail
Aku tak lancar untuk dawam tadarus quran
Aku sangat-sangat terbata mengingat-Nya di setiap waktu

Air mataku menderas menyaksikan dia diminta mengulang-ulang syahadatnya karena keliru... dan dia mengucapkan kembali dengan keterbataan yang sama…

aku seolah menyaksikan diriku sendiri yang gagap "mengucapkannya" dalam perilaku hidupku...
Ya Rabbi syahadatku begitu buruk
Ya Rabbi syahadatku begitu terbata
Ya Rabbi hari ke hari sayahadatku tak juga fasih
Adakah Engkau menerima syahadatku?
Dapatkah aku diseru sebagai hamba-Mu?
Sudikah Engkau mengampuni segala kesalahan dan dosaku yang tak terhingga pada-Mu?
Ya Rabbi….
Berilah hamba petunjuk
Aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan diri ini
Aku berlindung kepada-Mu dari segala kesesatan tindakan
Aku berlindung kepada-Mu dari segala perilaku syirik
(kesyirikan berupa fikiran, perasaan, penglihatan, pendengaran, gerak dan amaliah yang tak terbingkai dengan syahadat…)
Ampuni syahadatku yang terbata
Terimalah syahadatku meski tak fasih Rabbi…
Lalu karuniakanlah syahadat yang fasih untukku…

bahasa emang gak beli

“Bahasa kan tidak beli, jadi apa sulitnya menyapa”, bener banget tuh. Banyak sekali kebajikan yang sebenarnya tanpa biaya tapi kita melewatkannya. Sebaliknya terlalu banyak kesia-siaan bahkan kemaksiatan yang justru sangat mahal tapi digandrungi dan kita lakukan. Secara tak sadar kita memang tak berfikir logis, tidak taktis dalam mengarungi hidup ini, tidak rasional sama sekali.
.
Jadi di mana masalahnya?, ya di tidak mau itu sendiri. Jika tidak mau, betapa beratnya mohon maaf atau memaafkan. Jika tidak mau, betapa sulitnya menyapa orang yang menyalahi kita. Jika tidak mau, betapa beratnya beli garam ke warung saat di suruh ibu kita dahulu. Jika sedang ogah, betapa “horeamnya” shalat. Jika tidak mau, jika tidak rela hal seringan apapun menjadi sulit dan berat.
.
Lalu apa penyebab tidak mau itu?
Kadang kemalasan, kadang keangkuhan, kadang ego, kadang gengsi, kadang kesombongan, kadang malu yang tidak pada tempatnya, kadang jiwa yang dikerdilkan amarah, kadang ketidakrasionalan sikap kita sendiri. Tanpa sadar kita memenangkan suatu yang mencelakakan diri kita sendiri dan mengalahkan suatu yang sebenarnya bisa memuliakan diri kita. Sambil merasa kita sedang membela hak kita, membela harga diri kita, membela kebenaran kita. Naudzubillah min dzalik.
.
Pertengkaran, pertikaian, perkelahian, pembunuhan bahkan perang sering dipicu oleh hal yang teramat sepele. Karena urusan seribu perak ada yang terbunuh. Karena urusan seorang penumpang ada yang baku hantam. Karena urusan charger bekas pertemanan hancur. Karena urusan omongan usil yang mungkin sekedar bercanda terjadi adu mulut. Karena kaki terinjak saling ngotot. Begitu sepele bagi kita yang tak terlibat secara emosional, kita anggap itu keterlaluan. Tapi percayalah itu bukan hal sepele bagi yang bersangkutan. Itu terlihat begitu besar, bukan lagi seribu perak, seorang penumpang atau hal lainnya lagi yang terlihat, tapi ego, harga diri dan rasa benar yang dimilikinya. Dari situlah syetan masuk membisikkan dan mengobarkan kemarahan. Dan setelah api kemarahan besar, akal mundur ke belakang, nurani tersingkirkan. Api kemarahan harus menemukan pemuasannya. Ribut-ribut deh urusan belakangan. Enak saja ni orang harus diberi pelajaran. Ayo deh gue hadapi maunya loe apa dst kata-kata pamungkas yang ada di kepalanya saat itu. Padahal kan, coba apa yang dibela? Apa untungnya?. Ributnya saja sudah bikin malu, kalau sampai ada korban urusannya panjang mengganggu kehidupan normal yang bersangkutan sendiri. Begitulah emosi yang terpicu dan tak segera kita kendalikan.

mana spiritnya?

Yang terpenting spirit yang terus terpelihara, yang terpenting adalah tak ada kata berhenti, terus melangkah. Secara logika itu akan “menghidupkan” keseharian dan mengantarkan pada tujuan. Secara prinsipil dan hakikat, tak mungkin ada janji-Nya yang meleset, pasti akan sampai kepada-Nya. Disiplin, terus melangkah seberapa pun sulitnya, seberapa besar pun hambatannya, seberapa sering pun terjatuh (atau bahkan sampai terjengkang), yang penting bangkit dan melangkah lagi. Istiqomah, dimanapun berada, apapun kondisinya. Di keramaian atau di kesendirian. Di keadaan lapang atau di kesempitan.
.
Awali dengan niat lurus, mulai dengan doa. Dengan niat lurus, semua menjadi ibadah. Sementara doa adalah inti ibadah itu sendiri, adalah juga merupakan senjata atau “alat” untuk menyelesaikan segala urusan. Lalu jaga itu di sepanjang perjalanan. Tawakal atas segala iradah-Nya kemudian.